Dalam beberapa tahun belakangan, para lelaki mulai
berpikir dan bertindak dengan lebih menonjolkan aspek feminin pada
dirinya. Arus perubahan ini yang dikenal dengan istilah metroseksual ini
merupakan paradigma bagi seseorang lelaki untuk lebih menonjolkan
dirinya. Penampilan telah menjadi suatu hal yang penting dan mutlak bagi
lelaki metroseksual dan tidak mempedulikan biaya yang dikeluarkan.
Lelaki
metroseksual bukanlah lelaki homoseksual kerana mereka adalah lelaki
sejati yang memiliki keluarga yang bahagia. Mereka sebenarnya adalah
lelaki yang mengagumi dirinya sendiri atau biasa disebut narsistik.
Mereka akan bangga jika lingkungan sosialnya membicarakan hal-hal yang
baik tentang dirinya.
Metroseksual berasal dari etimologi Yunani,
metropolis , artinya ibu kota, plus seksual. Definisinya ; sosok pria
muda berpenampilan dandy, senang memanjakan dirinya, sangat peduli
dengan penampilannya, senang menjadi pusat perhatian (bahkan
menikmatinya), sangat tertarik dengan fashion dan berani menampilkan
sisi femininnya. Mereka ini bahkan ditengarai sebagai sosok narsistik,
yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya
hidup urban.
Terminologi metroseksual sendiri pertama kali diusung
oleh Mark Simpson , penulis asal Inggris, pada tahun 1994 di sebuah
website. Istilah ini berkembang relatif lambat dari satu media ke media
lainnya sepanjang tahun 1994 sampai awal tahun 2000-an.
David
Beckham pesepakbola dengan gaya flamboyan merupakan salah satu icon
sosok pria metroseksual, sekaligus membuat terminologi metroseksual
membumi dan diterima karena adanya tokoh terkenal yang jadi panutannya.
Berkembang
pesatnya fenomena ini pun tak luput dari begitu agresifnya para
pedagang produk-produk konsumtif kapitalis dan dunia periklanan
menangkap peluang emas dari menggejalanya fenomena metroseksual.
Kontroversi seputar metroseksual pun kian merembak dan semakin sengit
menyulut perdebatan terbuka di banyak media karena dianggap sebagai
tanda pergeseran terhadap domain konservatif maskulinitas
Marian
Salzman juru bicara Euro RSCGlewat beberapa media dinilai telah
mendifinisi ulang arti metroseksual yang pertama kali diusung Mark
Simpson, khusus mengenai preferensi seksual pria metroseksual, menjadi
hanya heteroseksual ( bukan gay ataupun biseksual ).
" Secara
komersial masuk akal untuk mereka menganggap pria metroseksual itu
heteroseksual. Kenyataannya, dunia periklanan selalu berusaha merayu
sebanyak-banyaknya pria untuk lebih rileks dan meyakinkan para pria ,
menjadi korban konsumerisme tidak lantas berarti mereka itu gay ! " ujar
Simpson yang gay itu
Bicara mengenai iklan , sebetulnya di awal
tahun 1990, Calvin Klein pernah mencoba menampilkan iklan produk pakain
dalam pria menggunakan Mark Wahlberg sebagai modelnya.
Iklan yang
menampilkan pose setengah telanjang mantan rapper yang terjun ke dunia
layar perak itu , cukup kontroversial karena begitu sensualnya
penampilan Walhberg.
Tapi karena masa itu citra maskulin masih
stereo type dengan macho dan fenomena metroseksual belum populer, maka
produk "perangkat dalam " pria Klien yang diiklankan Walhberg ketika itu
hanya berani membidik pasaran kaum gay saja.
Bagaimana pun iklan
sensasional yang dianggap sebagai cikal bakal maraknya produk-produk
fashion pria, cukup menyengat, karena terbukti sempat diperhatikan oleh
para pria heteroseksual, bahkan para wanita mengerlingkan mata mereka
memandang penampilan Mark Walhberg yang begitu mempesona itu.
Dengan
munculnya fenomena metroseksual dan iconnya yang mendunia, seakan
mempermulus usaha produsen produk konsumerisme global dan dunia
periklanan membidik sasaran yang memang sudah lama diincarnya.
Ciri-ciri lelaki metroseksual:
* Selalu ingin tampil rapi, bersih, dan wangi
* Sensitif dan mengerti perasaan wanita
* Rajin ke salon, bahkan bisa sampai 2 kali seminggu
* Mengenal merk terkenal dengan baik
* Mampu berbelanja selama berjam-jam tanpa merasa lelah
* Rajin menyambangi pusat - pusat kebugaran
* Suka akan fashion dan selalu mengikuti trend terbaru
* Berpikiran lebih liberal dan santai
* Tidak seperti pada lelaki umumnya yang lebih otoriter dan membedakan status
Apa
pun yang menyebabkan pergeseran citra maskulin menjadi lebih soft ini,
tampaknya membuat - baik produsen produk konsumeris dan dunia periklanan
global - mendulang keuntungan yang besar ," Dua puluh tahun yang lalu
kami hanya menjual sekedar pakain pria, sekarang fashion ," ujar David
Bush , General Manager sebuah perusahaan pakain pria.
Pendeknya,
kaum pria dekade sekarang ini lebih sadar gaya. Mereka jadi lebih dekat
dengan penggunaan after save lotion, wangi-wangian, facial, pembersih
dan pelembab wajah, pewarna rambut dan pernak-pernik lainnya.
Seperti
gayung bersambut, majalah-majalah khusus pria pun makin marak. Mulai
dari GQ , Men's Health, Ralph sampai FMH ( atau "For Him Magazine " yang
sudah terbit versi Indonesianya ). Bahkan Ralph dan FHM menambah
halaman khusus untuk fashion dan perawatan kulit. Tapi alasan penambahan
halaman majalah bukan melulu kebutuhan redaksional, melainkan karena
pasokan iklan yang semakin membajir. Majalah FHM internasional, mengaku,
pemasukkan iklan mereka naik sebesar 35 % dalam tiga tahun terakhir
ini.
Fenomena metroseksual ini bisa dipastikan juga sudah merambah
kota -kota besar di Indonesia, contohnya Jakarta. Dengan melihat
selintas lingkungan material kota besar , kita dengan mudah mengenali
gejala ini. Jika Anda lihat produk konsumtif untuk kalangan pria, yang
ditujukan untuk konsumen 20 - 30 tahun , maka model yang terpampang
umumnya sosok pria yang soft.
Banyaknya salon-salon khusus pria,
majalah-majalah khusus pria , sampai tempat perawatan tubuh untuk pria,
di mana para pria tidak malu-malu lagi untuk facial bahkan melakukan
perawatan manicure pedicure. Sementara di layar kaca kita bisa melihat
wajah - wajah aktor muda yang manis, kinyis-kinyis dan tak segan-segan
menenteng beauty case, di dalamnya berisi peralatan lengkap make-up.
Maskulinitas
tidak semestinya menggambarkan ciri-ciri kejantanan seseorang lelaki,
Karena maskulinitas itu hanyalah menggabarkan gaya hidup serta karakter
kejiwaan seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar