Sebuah kehidupan yang keras akan membuat Anda mengalami penuaan dini,
ungkap para peneliti seperti yang dirilis oleh Time. Lebih jauh,
anak-anak yang selama masa tumbuh-kembangnya mengalami kekerasan dan bullying saat masih berumur muda, akan mengalami perubahan DNA dan berpengaruh pada penuaan prematur.
Sekelompok peneliti internasional berhasil menemukan fakta tersebut dengan menganalisa data dari Environmental Risk Study (E-Risk)
yang melibatkan 2.232 anak-anak yang lahir antara tahun 1994 dan 1995
di Inggris dan Wales. Para periset yang memfokuskan penelitian pada 236
anak yang berumur 5 sampai 10 tahun menemukan bahwa hampir separuh dari
mereka mengalami kekerasan.
Kekerasan tersebut mereka terima, baik dari orangtua (khususnya ibu)
mereka, teman-teman dan lingkungannya, dari orang-orang dewasa yang
menjadikan mereka sebagai objek dari aksi agresif.
Idan Shalev, pemimpin dari penelitian tersebut, mengungkapkan bahwa ia
dan rekan-rekannya tertarik untuk mempelajari efek-efek negatif dari
tindak kekerasan yang diterima anak-anak terhadap kesehatan mereka dalam
jangka panjang. Selain itu, Shalev yang juga bekerja di departemen
psikologi dan neuroscience di Duke University, juga mencari
tahu tentang efek kekerasan terhadap perilaku anak-anak yang
mempengaruhi sel-sel di otak mereka.
Untuk melakukan penelitian tersebut, mereka mengambil sample DNA dari setiap anak dan mempelajari telomere atau bagian paling ujung dari sebuah DNA yang “menutup” setiap bagian kromosom. Dengan berjalannya waktu, telomere akan semakin memendek karena proses pembelahan sel. Hingga akhirnya telomere akan mencapai titik di mana ia akan mati.
Para ahli menyebutkan bahwa telomere adalah alat penunjuk yang mendokumentasikan penuaan dari sel-sel tubuh.
Dalam beberapa tahun belakangan, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa stress dapat mempengaruhi telomere
dan membuat sel-sel menjadi tua sebelum umurnya. Dan penelitian yang
dilakukan oleh Shalev semakin memperkuat hasil studi tersebut. Anak-anak
berumur 5 hingga 10 tahun yang sering mengalami berbagai jenis
kekerasan menunjukkan sebuah “erosi” pada telomere sel-sel mereka.
“Anak-anak yang mengalami kekerasan, terbukti mengalami penuaan dini
yang lebih cepat,” ucap Shalev seperti yang dikutip dari jurnal Molecular Psychiatry. “Penemuan ini juga turut menyarankan untuk melibatkan bagian telomere sebagai penanda stress dalam sebuah riset untuk mengevaluasi efek-efek dari rasa tertekan.”
Shalev lebih jauh mengungkapkan bahwa tindak kekerasan yang diterima
akan mengakibatkan stress pada anak. Bila seorang anak telah tertekan
secara kejiwaan dan/atau pikiran, maka tekanan tersebut akan
meningkatkan tingkat oksidasi dan juga gejala peradangan di dalam tubuh.
Dua hal tersebut adalah penyebab sel-sel di dalam tubuh kita untuk
membelah lebih cepat dari yang seharusnya dan membuat anak-anak akan
mengalami penuaan dini.
Senin, 14 Mei 2012
Pecandu "Pornografi" Bisa Terserang Anoreksia
Awas ! Bagi kaum pria yang kecanduan
dengan situs porno di internet. Dalam dua penelitian terbaru, pria yang
gemar menonton video porno akan mengalami anoreksia seksual.
Benarkah? Anoreksia seksual merupakan sebuah kondisi seksual dialami
seseorang yang ia kehilangan selera terhadap aktifitas seksual.
Anoreksia seksual juga berhubungan dengan masalah psikologis.
Hasil
penelitian terbaru di Italia menunjukkan, otak pria yang kecanduan
terhadap gambar atau video porno kehilangan kemampuan merespon sinyal
dopamine, dimana mereka cenderung menginginkan pengalaman ekstrim agar
terangsang.
Maria Robinson, psikolog sekaligus pengarang buku
‘Cupid’s Poisoned Arrow’ mengatakan bahwa terjadi peningkatan pada
jumlah pria berusia muda yang kecanduan situs pornografi, yang lantas
membuatnya ‘cupu’ dihadapan pasangannya.Para peneliti menambahkan bahwa pecandu situs porno juga tidak bisa mengalami ereksi tanpa bantuan sinyal dopamine dari internet.
Lelaki Metroseksual
Dalam beberapa tahun belakangan, para lelaki mulai
berpikir dan bertindak dengan lebih menonjolkan aspek feminin pada
dirinya. Arus perubahan ini yang dikenal dengan istilah metroseksual ini
merupakan paradigma bagi seseorang lelaki untuk lebih menonjolkan
dirinya. Penampilan telah menjadi suatu hal yang penting dan mutlak bagi
lelaki metroseksual dan tidak mempedulikan biaya yang dikeluarkan.
Lelaki metroseksual bukanlah lelaki homoseksual kerana mereka adalah lelaki sejati yang memiliki keluarga yang bahagia. Mereka sebenarnya adalah lelaki yang mengagumi dirinya sendiri atau biasa disebut narsistik. Mereka akan bangga jika lingkungan sosialnya membicarakan hal-hal yang baik tentang dirinya.
Metroseksual berasal dari etimologi Yunani, metropolis , artinya ibu kota, plus seksual. Definisinya ; sosok pria muda berpenampilan dandy, senang memanjakan dirinya, sangat peduli dengan penampilannya, senang menjadi pusat perhatian (bahkan menikmatinya), sangat tertarik dengan fashion dan berani menampilkan sisi femininnya. Mereka ini bahkan ditengarai sebagai sosok narsistik, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Terminologi metroseksual sendiri pertama kali diusung oleh Mark Simpson , penulis asal Inggris, pada tahun 1994 di sebuah website. Istilah ini berkembang relatif lambat dari satu media ke media lainnya sepanjang tahun 1994 sampai awal tahun 2000-an.
David Beckham pesepakbola dengan gaya flamboyan merupakan salah satu icon sosok pria metroseksual, sekaligus membuat terminologi metroseksual membumi dan diterima karena adanya tokoh terkenal yang jadi panutannya.
Berkembang pesatnya fenomena ini pun tak luput dari begitu agresifnya para pedagang produk-produk konsumtif kapitalis dan dunia periklanan menangkap peluang emas dari menggejalanya fenomena metroseksual. Kontroversi seputar metroseksual pun kian merembak dan semakin sengit menyulut perdebatan terbuka di banyak media karena dianggap sebagai tanda pergeseran terhadap domain konservatif maskulinitas
Marian Salzman juru bicara Euro RSCGlewat beberapa media dinilai telah mendifinisi ulang arti metroseksual yang pertama kali diusung Mark Simpson, khusus mengenai preferensi seksual pria metroseksual, menjadi hanya heteroseksual ( bukan gay ataupun biseksual ).
" Secara komersial masuk akal untuk mereka menganggap pria metroseksual itu heteroseksual. Kenyataannya, dunia periklanan selalu berusaha merayu sebanyak-banyaknya pria untuk lebih rileks dan meyakinkan para pria , menjadi korban konsumerisme tidak lantas berarti mereka itu gay ! " ujar Simpson yang gay itu
Bicara mengenai iklan , sebetulnya di awal tahun 1990, Calvin Klein pernah mencoba menampilkan iklan produk pakain dalam pria menggunakan Mark Wahlberg sebagai modelnya.
Iklan yang menampilkan pose setengah telanjang mantan rapper yang terjun ke dunia layar perak itu , cukup kontroversial karena begitu sensualnya penampilan Walhberg.
Tapi karena masa itu citra maskulin masih stereo type dengan macho dan fenomena metroseksual belum populer, maka produk "perangkat dalam " pria Klien yang diiklankan Walhberg ketika itu hanya berani membidik pasaran kaum gay saja.
Bagaimana pun iklan sensasional yang dianggap sebagai cikal bakal maraknya produk-produk fashion pria, cukup menyengat, karena terbukti sempat diperhatikan oleh para pria heteroseksual, bahkan para wanita mengerlingkan mata mereka memandang penampilan Mark Walhberg yang begitu mempesona itu.
Dengan munculnya fenomena metroseksual dan iconnya yang mendunia, seakan mempermulus usaha produsen produk konsumerisme global dan dunia periklanan membidik sasaran yang memang sudah lama diincarnya.
Ciri-ciri lelaki metroseksual:
* Selalu ingin tampil rapi, bersih, dan wangi
* Sensitif dan mengerti perasaan wanita
* Rajin ke salon, bahkan bisa sampai 2 kali seminggu
* Mengenal merk terkenal dengan baik
* Mampu berbelanja selama berjam-jam tanpa merasa lelah
* Rajin menyambangi pusat - pusat kebugaran
* Suka akan fashion dan selalu mengikuti trend terbaru
* Berpikiran lebih liberal dan santai
* Tidak seperti pada lelaki umumnya yang lebih otoriter dan membedakan status
Apa pun yang menyebabkan pergeseran citra maskulin menjadi lebih soft ini, tampaknya membuat - baik produsen produk konsumeris dan dunia periklanan global - mendulang keuntungan yang besar ," Dua puluh tahun yang lalu kami hanya menjual sekedar pakain pria, sekarang fashion ," ujar David Bush , General Manager sebuah perusahaan pakain pria.
Pendeknya, kaum pria dekade sekarang ini lebih sadar gaya. Mereka jadi lebih dekat dengan penggunaan after save lotion, wangi-wangian, facial, pembersih dan pelembab wajah, pewarna rambut dan pernak-pernik lainnya.
Seperti gayung bersambut, majalah-majalah khusus pria pun makin marak. Mulai dari GQ , Men's Health, Ralph sampai FMH ( atau "For Him Magazine " yang sudah terbit versi Indonesianya ). Bahkan Ralph dan FHM menambah halaman khusus untuk fashion dan perawatan kulit. Tapi alasan penambahan halaman majalah bukan melulu kebutuhan redaksional, melainkan karena pasokan iklan yang semakin membajir. Majalah FHM internasional, mengaku, pemasukkan iklan mereka naik sebesar 35 % dalam tiga tahun terakhir ini.
Fenomena metroseksual ini bisa dipastikan juga sudah merambah kota -kota besar di Indonesia, contohnya Jakarta. Dengan melihat selintas lingkungan material kota besar , kita dengan mudah mengenali gejala ini. Jika Anda lihat produk konsumtif untuk kalangan pria, yang ditujukan untuk konsumen 20 - 30 tahun , maka model yang terpampang umumnya sosok pria yang soft.
Banyaknya salon-salon khusus pria, majalah-majalah khusus pria , sampai tempat perawatan tubuh untuk pria, di mana para pria tidak malu-malu lagi untuk facial bahkan melakukan perawatan manicure pedicure. Sementara di layar kaca kita bisa melihat wajah - wajah aktor muda yang manis, kinyis-kinyis dan tak segan-segan menenteng beauty case, di dalamnya berisi peralatan lengkap make-up.
Maskulinitas tidak semestinya menggambarkan ciri-ciri kejantanan seseorang lelaki, Karena maskulinitas itu hanyalah menggabarkan gaya hidup serta karakter kejiwaan seseorang.
Lelaki metroseksual bukanlah lelaki homoseksual kerana mereka adalah lelaki sejati yang memiliki keluarga yang bahagia. Mereka sebenarnya adalah lelaki yang mengagumi dirinya sendiri atau biasa disebut narsistik. Mereka akan bangga jika lingkungan sosialnya membicarakan hal-hal yang baik tentang dirinya.
Metroseksual berasal dari etimologi Yunani, metropolis , artinya ibu kota, plus seksual. Definisinya ; sosok pria muda berpenampilan dandy, senang memanjakan dirinya, sangat peduli dengan penampilannya, senang menjadi pusat perhatian (bahkan menikmatinya), sangat tertarik dengan fashion dan berani menampilkan sisi femininnya. Mereka ini bahkan ditengarai sebagai sosok narsistik, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Terminologi metroseksual sendiri pertama kali diusung oleh Mark Simpson , penulis asal Inggris, pada tahun 1994 di sebuah website. Istilah ini berkembang relatif lambat dari satu media ke media lainnya sepanjang tahun 1994 sampai awal tahun 2000-an.
David Beckham pesepakbola dengan gaya flamboyan merupakan salah satu icon sosok pria metroseksual, sekaligus membuat terminologi metroseksual membumi dan diterima karena adanya tokoh terkenal yang jadi panutannya.
Berkembang pesatnya fenomena ini pun tak luput dari begitu agresifnya para pedagang produk-produk konsumtif kapitalis dan dunia periklanan menangkap peluang emas dari menggejalanya fenomena metroseksual. Kontroversi seputar metroseksual pun kian merembak dan semakin sengit menyulut perdebatan terbuka di banyak media karena dianggap sebagai tanda pergeseran terhadap domain konservatif maskulinitas
Marian Salzman juru bicara Euro RSCGlewat beberapa media dinilai telah mendifinisi ulang arti metroseksual yang pertama kali diusung Mark Simpson, khusus mengenai preferensi seksual pria metroseksual, menjadi hanya heteroseksual ( bukan gay ataupun biseksual ).
" Secara komersial masuk akal untuk mereka menganggap pria metroseksual itu heteroseksual. Kenyataannya, dunia periklanan selalu berusaha merayu sebanyak-banyaknya pria untuk lebih rileks dan meyakinkan para pria , menjadi korban konsumerisme tidak lantas berarti mereka itu gay ! " ujar Simpson yang gay itu
Bicara mengenai iklan , sebetulnya di awal tahun 1990, Calvin Klein pernah mencoba menampilkan iklan produk pakain dalam pria menggunakan Mark Wahlberg sebagai modelnya.
Iklan yang menampilkan pose setengah telanjang mantan rapper yang terjun ke dunia layar perak itu , cukup kontroversial karena begitu sensualnya penampilan Walhberg.
Tapi karena masa itu citra maskulin masih stereo type dengan macho dan fenomena metroseksual belum populer, maka produk "perangkat dalam " pria Klien yang diiklankan Walhberg ketika itu hanya berani membidik pasaran kaum gay saja.
Bagaimana pun iklan sensasional yang dianggap sebagai cikal bakal maraknya produk-produk fashion pria, cukup menyengat, karena terbukti sempat diperhatikan oleh para pria heteroseksual, bahkan para wanita mengerlingkan mata mereka memandang penampilan Mark Walhberg yang begitu mempesona itu.
Dengan munculnya fenomena metroseksual dan iconnya yang mendunia, seakan mempermulus usaha produsen produk konsumerisme global dan dunia periklanan membidik sasaran yang memang sudah lama diincarnya.
Ciri-ciri lelaki metroseksual:
* Selalu ingin tampil rapi, bersih, dan wangi
* Sensitif dan mengerti perasaan wanita
* Rajin ke salon, bahkan bisa sampai 2 kali seminggu
* Mengenal merk terkenal dengan baik
* Mampu berbelanja selama berjam-jam tanpa merasa lelah
* Rajin menyambangi pusat - pusat kebugaran
* Suka akan fashion dan selalu mengikuti trend terbaru
* Berpikiran lebih liberal dan santai
* Tidak seperti pada lelaki umumnya yang lebih otoriter dan membedakan status
Apa pun yang menyebabkan pergeseran citra maskulin menjadi lebih soft ini, tampaknya membuat - baik produsen produk konsumeris dan dunia periklanan global - mendulang keuntungan yang besar ," Dua puluh tahun yang lalu kami hanya menjual sekedar pakain pria, sekarang fashion ," ujar David Bush , General Manager sebuah perusahaan pakain pria.
Pendeknya, kaum pria dekade sekarang ini lebih sadar gaya. Mereka jadi lebih dekat dengan penggunaan after save lotion, wangi-wangian, facial, pembersih dan pelembab wajah, pewarna rambut dan pernak-pernik lainnya.
Seperti gayung bersambut, majalah-majalah khusus pria pun makin marak. Mulai dari GQ , Men's Health, Ralph sampai FMH ( atau "For Him Magazine " yang sudah terbit versi Indonesianya ). Bahkan Ralph dan FHM menambah halaman khusus untuk fashion dan perawatan kulit. Tapi alasan penambahan halaman majalah bukan melulu kebutuhan redaksional, melainkan karena pasokan iklan yang semakin membajir. Majalah FHM internasional, mengaku, pemasukkan iklan mereka naik sebesar 35 % dalam tiga tahun terakhir ini.
Fenomena metroseksual ini bisa dipastikan juga sudah merambah kota -kota besar di Indonesia, contohnya Jakarta. Dengan melihat selintas lingkungan material kota besar , kita dengan mudah mengenali gejala ini. Jika Anda lihat produk konsumtif untuk kalangan pria, yang ditujukan untuk konsumen 20 - 30 tahun , maka model yang terpampang umumnya sosok pria yang soft.
Banyaknya salon-salon khusus pria, majalah-majalah khusus pria , sampai tempat perawatan tubuh untuk pria, di mana para pria tidak malu-malu lagi untuk facial bahkan melakukan perawatan manicure pedicure. Sementara di layar kaca kita bisa melihat wajah - wajah aktor muda yang manis, kinyis-kinyis dan tak segan-segan menenteng beauty case, di dalamnya berisi peralatan lengkap make-up.
Maskulinitas tidak semestinya menggambarkan ciri-ciri kejantanan seseorang lelaki, Karena maskulinitas itu hanyalah menggabarkan gaya hidup serta karakter kejiwaan seseorang.
8 cara melepas Kelekatan Anak
Di usia ini, anak memang masih amat lengket dengan orang tuanya. Namun
dengan perlakuan yang tepat, melepas anak agar lebih mandiri, tidak
mustahil, kok.
Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara, setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi, membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.
Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat, masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak hingga ia berusia dewasa.
Berikut 8 langkah yang diberikan Niken, agar anak bisa melonggarkan keterikatannya pada ayah-ibu.
1. TUMBUHKAN RASA AMAN DAN NYAMAN
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.
Agar anak merasa aman, orang tua perlu memberi penjelasan sederhana yang mudah dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak perlu takut." Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman. "Kenapa takut? Kan, Mama ada di sini, di samping Adik," misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya agar tumbuh perasaan nyaman.
Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.
2. BINALAH RASA PERCAYA DIRI.
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.
Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.
Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.
3. HARGAI ANAK
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan percaya dirinya. "Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih terdapat kesalahan di sana-sini."
Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung perilaku-perilaku positif.
4. KELELUASAAN BERMAIN
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. "Lihat, tuh. Kayaknya asyik banget, ya, main bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main sana." Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa percaya dirinya.
Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.
Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.
5. PERKENALKAN LINGKUNGAN DI LUAR RUMAH
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.
Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. HINDARI INTERVENSI
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.
Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.
Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.
Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang disamping kesabaran.
7. ARAHKAN, BUKAN MALAH MEMOJOKKAN
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini (sambil mencontohkan) lalu masukkan ke mulut."
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.
Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.
8. JANGAN KELEWAT MENUNTUT
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi anak.
Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara, setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi, membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.
Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat, masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak hingga ia berusia dewasa.
Berikut 8 langkah yang diberikan Niken, agar anak bisa melonggarkan keterikatannya pada ayah-ibu.
1. TUMBUHKAN RASA AMAN DAN NYAMAN
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.
Agar anak merasa aman, orang tua perlu memberi penjelasan sederhana yang mudah dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak perlu takut." Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman. "Kenapa takut? Kan, Mama ada di sini, di samping Adik," misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya agar tumbuh perasaan nyaman.
Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.
2. BINALAH RASA PERCAYA DIRI.
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.
Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.
Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.
3. HARGAI ANAK
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan percaya dirinya. "Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih terdapat kesalahan di sana-sini."
Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung perilaku-perilaku positif.
4. KELELUASAAN BERMAIN
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. "Lihat, tuh. Kayaknya asyik banget, ya, main bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main sana." Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa percaya dirinya.
Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.
Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.
5. PERKENALKAN LINGKUNGAN DI LUAR RUMAH
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.
Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. HINDARI INTERVENSI
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.
Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.
Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.
Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang disamping kesabaran.
7. ARAHKAN, BUKAN MALAH MEMOJOKKAN
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini (sambil mencontohkan) lalu masukkan ke mulut."
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.
Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.
8. JANGAN KELEWAT MENUNTUT
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi anak.
Permasalahan Pada Dunia E-commerce di Indonesia
Kelihatannya, Indonesia bukan hanya terkenal akan pasar mobile-nya yang besar, namun juga apapun yang berhubungan dengan sosial, e-commerce dan games. Banyak orang yang tertarik dengan e-commerce di Indonesia, tahun lalu adalah tahunnya e-commerce, ditandai dengan diluncurkannya lebih dari 20 perusahaan e-commerce. Dan tentu saja banyak yang kemudian gagal, menyisakan para pemain yang telah mapan seperti Rakuten, TokoBagus, Plasa, Berniaga, Kemana, Tokopedia, dll.
Namun sejauh ini, belum ada yang cukup sukses di pasar yang sangat luas dan penuh kesempatan ini. Ada beberapa masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan usahanya, saya akan coba membahas sebagian dari permasalahan tersebut.
Perilaku
Pertama-tama, belanja online bukanlah sesuatu yang baru bagi orang Indonesia yang tinggal di kota besar, mereka telah mengetahui tentang hal ini namun entah kenapa tidak dilakukan. Mengapa? Dari hasil riset kami baru-baru ini, sebagian besar orang Indonesia masih kurang mempercayai situs-situs e-commerce, bukan tentang keamanan dari berbelanja online yang tidak mereka percayai namun justru merchant-nya. Mereka takut ditipu, selain itu kurangnya kredibilitas/reputasi yang diberikan oleh pasar semakin memperburuk keadaan.
Sarana Pembayaran
Tahun lalu, payment gateway bisa dibilang nyaris tidak ada sama sekali. Namun kemudian muncul Doku dan Unik, juga IndoMog yang merangkul beberapa mitra untuk penyebaran konten. Dan juga beberapa payment gateway muncul dari bank, carriers, dan produsen handset, tentunya akan semakin banyak penawaran yang datang dari layanan pembayaran untuk digunakan oleh startup. Namun kita harus menunggu dan mencoba layanan yang sudah ada, sampai menemukan yang cocok dan bisa berjalan di Indonesia.
Mobile
Mobile merupakan pasar yang besar di Indonesia, namun belum ada perusahaan e-commerce yang melakukan sesuatu yang signifikan bagi para pengguna mobile mereka, kecuali perusahaan seperti Tokobagus, yang itu pun membutuhkan waktu lama sebelum mereka meluncurkan sebuah aplikasi BlackBerry. Pasar para pengguna e-commerce memang ada di mobile, namun sebagian besar e-commerce startup lebih memperhatikan situs yang diakses dari desktop mereka dibandingkan memberikan layanan yang bagus melalui mobile shopping. Bila ada yang bisa memecahkan masalah ini, maka hal itu bisa menjadi standar baru untuk perkembangan e-commerce.
Sarana Logistik
Sebagian besar e-commerce startup tidak memperhatikan poin ini, “kami hanya menyediakan pasar, bukan logistik” adalah alasan klasik yang disampaikan, namun bila sebuah perusahaan e-commerce ingin sukses, logistik adalah hal yang wajib. Memang benar, Anda menjalankan perusahaan “online”, namun e-commerce tetaplah COMMERCE (perdagangan) yang menggunakan internet. Dan salah satu bagian dari perdagangan tersebut adalah logistik, cara mendistribusikan dan mengirimkan barang langsung ke pembeli! Hal ini merupakan permasalahan bagi sebagian besar perusahaan, menemukan metode operasional dari awal hingga akhir, dari ujung ke ujung, dari mulai merambah laman mencari barang, membayar, keamanan dan pengiriman barang.
Peraturan
Nah, ini yang menyedihkan, di saat indutri bertumbuh dengan cepat, pemerintah Indonesia sedang merencanakan untuk menerbitkan peraturan yang melarang siapapun menangani pengiriman uang, dan hal ini bisa memperlambat kemajuan industri
Namun sejauh ini, belum ada yang cukup sukses di pasar yang sangat luas dan penuh kesempatan ini. Ada beberapa masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan usahanya, saya akan coba membahas sebagian dari permasalahan tersebut.
Perilaku
Pertama-tama, belanja online bukanlah sesuatu yang baru bagi orang Indonesia yang tinggal di kota besar, mereka telah mengetahui tentang hal ini namun entah kenapa tidak dilakukan. Mengapa? Dari hasil riset kami baru-baru ini, sebagian besar orang Indonesia masih kurang mempercayai situs-situs e-commerce, bukan tentang keamanan dari berbelanja online yang tidak mereka percayai namun justru merchant-nya. Mereka takut ditipu, selain itu kurangnya kredibilitas/reputasi yang diberikan oleh pasar semakin memperburuk keadaan.
Sarana Pembayaran
Tahun lalu, payment gateway bisa dibilang nyaris tidak ada sama sekali. Namun kemudian muncul Doku dan Unik, juga IndoMog yang merangkul beberapa mitra untuk penyebaran konten. Dan juga beberapa payment gateway muncul dari bank, carriers, dan produsen handset, tentunya akan semakin banyak penawaran yang datang dari layanan pembayaran untuk digunakan oleh startup. Namun kita harus menunggu dan mencoba layanan yang sudah ada, sampai menemukan yang cocok dan bisa berjalan di Indonesia.
Mobile
Mobile merupakan pasar yang besar di Indonesia, namun belum ada perusahaan e-commerce yang melakukan sesuatu yang signifikan bagi para pengguna mobile mereka, kecuali perusahaan seperti Tokobagus, yang itu pun membutuhkan waktu lama sebelum mereka meluncurkan sebuah aplikasi BlackBerry. Pasar para pengguna e-commerce memang ada di mobile, namun sebagian besar e-commerce startup lebih memperhatikan situs yang diakses dari desktop mereka dibandingkan memberikan layanan yang bagus melalui mobile shopping. Bila ada yang bisa memecahkan masalah ini, maka hal itu bisa menjadi standar baru untuk perkembangan e-commerce.
Sarana Logistik
Sebagian besar e-commerce startup tidak memperhatikan poin ini, “kami hanya menyediakan pasar, bukan logistik” adalah alasan klasik yang disampaikan, namun bila sebuah perusahaan e-commerce ingin sukses, logistik adalah hal yang wajib. Memang benar, Anda menjalankan perusahaan “online”, namun e-commerce tetaplah COMMERCE (perdagangan) yang menggunakan internet. Dan salah satu bagian dari perdagangan tersebut adalah logistik, cara mendistribusikan dan mengirimkan barang langsung ke pembeli! Hal ini merupakan permasalahan bagi sebagian besar perusahaan, menemukan metode operasional dari awal hingga akhir, dari ujung ke ujung, dari mulai merambah laman mencari barang, membayar, keamanan dan pengiriman barang.
Peraturan
Nah, ini yang menyedihkan, di saat indutri bertumbuh dengan cepat, pemerintah Indonesia sedang merencanakan untuk menerbitkan peraturan yang melarang siapapun menangani pengiriman uang, dan hal ini bisa memperlambat kemajuan industri
Hati-Hati dengan Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi
akademik. Apakah teman-teman pernah dengan istilah tersebut?
Mendengarnya mungkin ada belum ya, tetapi yang jelas, semua orang
pernah, sadar atau tidak, melakukannya, dan menjadikannya kebiasaan.
Pernahkah
teman-teman menunda-nunda menyelesaikan suatu pekerjaan, mengerjakan
tugas, atau belajar sampai detik-detik terakhir menjelang ujian? Ketika
itu semua terjadi, teman-teman merasa seperti tidak bisa berbuat apa-apa
sebelum dekat dengan deadline-nya, seperti semangat baru ada jika keadaan sudah mendesak.
Mungkin
teman-teman bertanya, memang ada apa dengan menunda-nunda sesuatu. Bagi
sebagian orang, menunda sesuatu adalah sesuatu yang tak terelakkan
karena ada penyebab yang bisa diterima akal sehat. Namun, prokrastinasi
di sini adalah menunda-nunda dengan alasan yang irrasional dan
mengada-ada, makanya jadi masalah (besar).
Siapa yang suka bekerja dan belajar dalam ketegangan, ketergesaan, dikejar deadline,
atau diancam-ancam bos atau ketua panitia? Sekalipun pekerjaan selesai,
siapa yang tidak stres berat atau cemas? Bagaimana bisa hasilnya
sempurna? Bagaimana kalau gagal total? Bagaimana kalau muncul tugas atau
masalah lain yang lebih gawat??? Tidak ada yang suka!
Orang yang melakukan prokrastinasi pasti tidak akan merasa baik-baik saja, sekalipun kelihatannya mereka tampak oke. Yeah, jangan sok cool.
Situasi gawat, waktu mendesak, dan sempitnya kesempatan yang kita
buat-buat sendiri, sekalipun kita dapat melewatinya, bukan sesuatu yang
dapat dibanggakan. Jika
situasi tersebut dipandang sebagai tantangan yang memicu adrenalin,
menegangkan, dan menyenangkan, ini termasuk rasionalisasi yang salah
kaprah.
Kita
semua dapat disebut prokrastinator (pelaku prokrastinasi). Mudahnya,
prokrastinasi terjadi ketika kita tahu bahwa kita seharusnya mengerjakan
sesuatu dan ingin mengerjakannya, tetapi gagal memotivasi diri untuk
melakukannya sesuai harapan atau dalam waktu yang ditentukan. Karena hal
itulah, maka terjadi penundaan waktu mulai bekerja sampai dialami
tekanan, kekecewaan, kecemasan, atau rasa bersalah karena kita tidak
mengerjakannya lebih awal.
Mengapa prokrastinasi bisa terjadi?
Ada
orang yang prokrastinasi karena merasa dirinya memang malas, tidak
disiplin, dan tidak tahu caranya mengelola waktu. Menyalahkan
kepribadian? Ya, dan lebih itu, berdasarkan suatu teori, prokrastinasi
tidak hanya merupakan kebiasaan buruk, tetapi juga ekspresi keyakinan
dan harga diri yang rentan. Hal tersebut terungkap jika orang ditanya,
mengapa menunda pekerjaan, dan jawaban mereka: "Aku memang orangnya kayak gini (malas, tidak disiplin), nggak bisa diapa-apain lagi."
Prokrastinasi
terjadi bukan hanya karena ketidaktahuan cara mengelola waktu. Banyak
orang yang tahu caranya mengelola waktu, tetapi tetap saja
prokrastinasi. Maka, ada teori yang menyimpulkan bahwa prokrastinasi ini
adalah masalah motivasi. Ada sesuatu yang dicemaskan dan tidak ingin
dihadapi: fear of failure, yang identik dengan keberadaan
kecemasan bertindak, perfeksionisme, dan ketidakpercayaan diri. Ini
seperti orang yang ingin mutiara tetapi tidak mau menyelam karena takut
tenggelam dan gagal mendapatkan mutiara. Mereka duduk saja di tepi
pantai menunggu ada orang yang mau menyelam.
Ketiadaan motivasi dapat terjadi karena tidak adanya "sense of purpose". Mari
tanyakan kepada diri, bagaimanakah tujuan-tujuan hidup ini kita jiwai?.
Ada kecenderungan bahwa orang tidak proaktif mengejar tujuan hidupnya
adalah karena ia tidak tahu mengapa ia hidup. Tujuan-tujuan yang
dimilikinya kalau tidak tujuan hidup yang sifatnya normatif ("Aku harus belajar karena manusia memang harus belajar."), adalah tujuan milik orang lain yang dijadikan miliknya ("Aku harus belajar karena ortu ingin aku kerja ini nantinya.").
Penyelesaiannya...
Sense of purpose...
kupikir, ini adalah pertanyaan besar dalam kehidupan kita semua.
Lagi-lagi, penyelesaian masalah prokrastinasi kembali pada diri
masing-masing. Secanggih apapun metode, kiat-kiat, dan pemahaman atas
manajemen waktu, kalau sense of purpose kita tidak kuat, kita
tidak akan memiliki motivasi diri yang cukup untuk memperbaiki diri dan
melaksanakan metode-metode manajemen diri dan waktu.
Sudahkah
kita memiliki tujuan hidup yang benar-benar kita jiwai? Sebaiknya, kita
segera menjawab, "Ya, punya." Pada prosesnya tak masalah jika ada saat
di mana kita akan malas, lelah, dan berbuat salah, itu semua manusiawi.
Namun demikian, dengan tujuan hidup yang benar dan dirasakan dengan kuat
dan begitu berharga, tujuan itu akan menjadi pengingat bagi kita untuk
tidak kebablasan dalam melakukan prokrastinasi, menyemangati kita di saat-saat sulit, bahkan ketika fear of failure dirasakan sangat kuat.
Cara Mengatasi Agresi
Agresi
adalah sebuah tingkah laku menyerang orang lain baik fisik, psikis
maupun psikologis. Agresi dapat membuat kerusakan secara materil maupun
immateril. Agresi bisa dilakukan oleh seorang anak ataupun seorang
dewasa. Agresi merupakan tingkah laku yang dipelajari dari lingkungan,
dan merupakan respon dari sebuah peristiwa yang dianggap mengancam
keberadaan/survive individu.
Ada
beberapa cara untuk meredam atau menghilangkan sebuah tingkah laku
yang bersifat agresif. Cara-cara mengatasi agesi itu adalah sebagai
berikut:
Pengamatan tingkah laku yang baik
Budaya,
pendidikan, tontonan yang selalu menampilkan perilaku agresif akan
membuat seseorang mengimitasi perilaku tersebut. Untuk mengurangi
perilaku agresif ini bisa dengan menampilkan tingkah laku yang
memberikan teladan yang baik. Mengurangi tingkah laku budaya dan
pendidikan yang menunjukkan agresivitas dan lain-lain. Mengurangi
tayangan televisi yang menampilkan kekerasan misalnya, adalah hal yang
dianggap penting untuk mengurangi perilaku agresi yang ada dalam
masyarakat.
Hukuman
Sejarah
manusia lebih banyak mencatat hukuman sebagai cara penanganan
terhadap agresi. Hal ini bisa dilihat dari agresivitas yang dilakukan
individu hingga yang dilakukan oleh institusi atau bahkan negara. Pada
individu, para pelaku kekerasan seperti pemerkosa dan pembunuh akan
dihukum penjara atau hukuman mati. Negara aggressor seperti Jepang saat
menganeksasi Cina tahun 1930-an, diberi sanksi oleh Liga
Bangsa-Bangsa. Namun tetap saja agresivitas muncul. Hal yang paling
penting dalam penggunaan hukuman adalah hukuman harus jelas dan sesegera
mungkin mengikuti agresivitas yang dilakukan. Kedua, hukuman harus
amat keras sehingga mengurangi kemungkinan pengulangan oleh pelaku.
Katarsis
Seseorang
yang perlu mereduksi dorongan agresinya, maka dibutuhkan saluran untuk
menyalurkan agresi tersebut. Ingin memukul teman bisalnya, dialihkan
pada memukul meja. Perilaku ini, oleh Freud disebut dengan katarsis.
Isitilah ini mengalami perluasan istilah seperti hipotesis katarsis,
yakni upaya untuk menurunkan rasa marah dan kebenciannya dengan cara
yang lebih aman sehingga mengurangi bentuk agresi yang sekiranya akan
muncul. Umumnya, katarsis berupa kegiatan fisik yang menguras tenaga.
Ketika fisik lelah, diperkirakan tingkah laku agresif akan turun.
Beberapa aktivitas itu antara lain olah raga atau menonton film-film
laga. Hal yang menarik adalah munculnya pesimisme atas langkah ini. hal
ini disebabkan karena walaupun katarsis menurunkan rasa marah,
agresivitas bisa muncul ketika seseorang kembali terprovokasi.
Kognitif
Bisa
dibayangkan ketika seseorang berbuat kesalahan pada orang lain, maka
tak ayal lagi orang yang dizalimi akan marah. Bagaimana jika ternyata
orang yang dizalimi tadi ternyata memaafkan si pembuat kesalahan? Hal
ini menjadi mungkin ketika kognisi orang yang dizalimi tadi diisi oleh
informasi bahwa perlunya memaafkan orang yang menzalimi. Memaafkan
tentunya denga rasa tulus dan ikhlas bahwa dirinya tidak merugi. Hal
ini bisa mengurangi agresivitas, setidaknya agesivitas yang tampak.
Karakteristik Wanita yang Luar Biasa
Karakteristik yang membuat seorang wanita menjadi hebat dapat
berbeda, tergantung pada apa kualitas yang Anda nilai pada diri
seseorang. Namun, unsur-unsur kepribadian yang kebanyakan orang akan
anggap sebagai besar adalah ditemukan dalam karakter seseorang yang
kuat. Istri, ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek adalah
orang penting dalam kehidupan semua orang dan akan dianggap perempuan
luar biasa, terutama oleh mereka yang dekat dengan mereka.
Keterampilan Bahasa
Studi telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan bahasa yang lebih kuat daripada pria. Hal ini ditentukan oleh bagian tertentu dari otak yang mengendalikan kemampuan bahasa dan aktivasi yang lebih besar terjadi di daerah ini pada wanita. Salah satu manfaat untuk itu adalah memiliki keterampilan komunikasi yang kuat. Perempuan baik dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaan mereka, yang mendorong keterbukaan dalam hubungan. Keterampilan bahasa juga bermanfaat dalam mengajar anak-anak juga.
Mengasuh
Kebanyakan wanita tampaknya memiliki insting bawaan untuk mengasuh dan cenderung untuk merawat dan mengurus rumah. Ini adalah salah satu kualitas yang membuat seorang ibu yang bertanggung jawab. Mengurus kebutuhan keluarganya dan menyediakan lingkungan yang nyaman adalah memang dunia wanita. Seorang wanita hangat dan penuh kasih yang memelihara hubungan dekat adalah salah satu karakteristik nya. Tapi wanita sering melakukan lebih dari sekedar mengurus rumah. Selain mengurus rumah dan anak-anak mereka, banyak perempuan memiliki pekerjaan penuh atau paruh waktu, yang merupakan contoh dari kemampuan multi-tasking mereka.
Kekuatan
Pria mungkin secara fisik lebih kuat, tetapi perempuan memiliki jenis kekuatan mereka sendiri. Memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan “tidak” terhadap pengaruh buruk dan melakukan apa yang tepat untuknya membutuhkan kekuatan emosional. Seorang wanita yang kuat dapat menjaga keluarga bersama-sama, akan bertahan untuk apa yang ia percaya merupakan kebenaran dan akan menggunakan kekuatan untuk mengatasi rasa takutnya. Melahirkan juga membutuhkan suatu jenis kekuatan, baik emosional dan fisik yang hanya bisa dimiliki perempuan.
Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional terdiri dari empat komponen; kesadaran diri, manajemen emosi, empati, dan keterampilan sosial. Wanita memiliki kecenderungan kuat terhadap kecerdasan emosional karena keterhubungan mereka untuk perasaan mereka. Misalnya, ketika emosi mengganggu muncul, otak wanita akan tetap dengan perasaan dan otak pria akan cenderung untuk menghilangkan emosi dan masuk ke mode pemecahan masalah. Kemampuan pada wanita ini membuatnya menjadi konselor dan perawat yang baik.
Kasih Sayang
Karakteristik lain dalam perempuan yang cenderung lebih besar daripada pria adalah kasih sayang, menurut seorang psikoterapis. Kemampuan untuk berempati dengan kesulitan atau pengalaman seseorang memberi wanita pemahaman yang lebih baik untuk seseorang dan memungkinkan wanita untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Hal ini memungkinkan orang untuk terbuka, percaya, dan mengembangkan hubungan.
Keterampilan Bahasa
Studi telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan bahasa yang lebih kuat daripada pria. Hal ini ditentukan oleh bagian tertentu dari otak yang mengendalikan kemampuan bahasa dan aktivasi yang lebih besar terjadi di daerah ini pada wanita. Salah satu manfaat untuk itu adalah memiliki keterampilan komunikasi yang kuat. Perempuan baik dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaan mereka, yang mendorong keterbukaan dalam hubungan. Keterampilan bahasa juga bermanfaat dalam mengajar anak-anak juga.
Mengasuh
Kebanyakan wanita tampaknya memiliki insting bawaan untuk mengasuh dan cenderung untuk merawat dan mengurus rumah. Ini adalah salah satu kualitas yang membuat seorang ibu yang bertanggung jawab. Mengurus kebutuhan keluarganya dan menyediakan lingkungan yang nyaman adalah memang dunia wanita. Seorang wanita hangat dan penuh kasih yang memelihara hubungan dekat adalah salah satu karakteristik nya. Tapi wanita sering melakukan lebih dari sekedar mengurus rumah. Selain mengurus rumah dan anak-anak mereka, banyak perempuan memiliki pekerjaan penuh atau paruh waktu, yang merupakan contoh dari kemampuan multi-tasking mereka.
Kekuatan
Pria mungkin secara fisik lebih kuat, tetapi perempuan memiliki jenis kekuatan mereka sendiri. Memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan “tidak” terhadap pengaruh buruk dan melakukan apa yang tepat untuknya membutuhkan kekuatan emosional. Seorang wanita yang kuat dapat menjaga keluarga bersama-sama, akan bertahan untuk apa yang ia percaya merupakan kebenaran dan akan menggunakan kekuatan untuk mengatasi rasa takutnya. Melahirkan juga membutuhkan suatu jenis kekuatan, baik emosional dan fisik yang hanya bisa dimiliki perempuan.
Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional terdiri dari empat komponen; kesadaran diri, manajemen emosi, empati, dan keterampilan sosial. Wanita memiliki kecenderungan kuat terhadap kecerdasan emosional karena keterhubungan mereka untuk perasaan mereka. Misalnya, ketika emosi mengganggu muncul, otak wanita akan tetap dengan perasaan dan otak pria akan cenderung untuk menghilangkan emosi dan masuk ke mode pemecahan masalah. Kemampuan pada wanita ini membuatnya menjadi konselor dan perawat yang baik.
Kasih Sayang
Karakteristik lain dalam perempuan yang cenderung lebih besar daripada pria adalah kasih sayang, menurut seorang psikoterapis. Kemampuan untuk berempati dengan kesulitan atau pengalaman seseorang memberi wanita pemahaman yang lebih baik untuk seseorang dan memungkinkan wanita untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Hal ini memungkinkan orang untuk terbuka, percaya, dan mengembangkan hubungan.
Langganan:
Postingan (Atom)