PERILAKU KONSUMTIF REMAJA TERHADAP
BARANG-BARANG BERMERK
A. PERILAKU KONSUMTIF
James F. Engel (dalam Mangkunegara, 2002: 3) ”mengemukakan bahwa
perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan
individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan
menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan
keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumtif bisa dilakukan oleh siapa saja. Fromm Pendapat di
atas berarti bahwa perilaku membeli yang berlebihan tidak lagi
mencerminkan usaha manusia untuk memanfaatkan uang secara ekonomis namun
perilaku konsumtif dijadikan sebagai suatu sarana untuk menghadirkan
diri dengan cara yang kurang tepat. Perilaku tersebut menggambarkan
sesuatu yang tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara
ekonomis menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Sedangkan secara
psikologis menimbulkan kecemasan dan rasa tidak aman.Konsumen dalam
membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata,
tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Keinginan tersebut
seringkali mendorong seseorang untuk membeli barang yang sebenarnya
tidak dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat dari pembelian produk oleh
konsumen yang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata tetapi juga
keinginan untuk meniru orang lain yaitu agar mereka tidak berbeda dengan
anggota kelompoknya atau bahkan untuk menjaga gengsi agar tidak ketinggalan jaman.
Keputusan pembelian yang didominasi oleh faktor emosi menyebabkan
timbulnya perilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dalam perilaku
konsumtif yaitu perilaku membeli sesuatu yang belum tentu menjadi
kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama dan menimbulkan
pemborosan.
Hal-hal yang Berkaitan dengan Perilaku Konsumtif
Konsumtif menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang
sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan
yang maksimal.
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam perilaku konsumtif Tambunan (2001) berpendapat ada dua aspek mendasar, yaitu :
1) Adanya suatu keinginan mengkonsumsi secara berlebihan.
2) Pemborosan. Perilaku konsumtif yang memanfaatkan nilai uang lebih
besar dari nilai produknya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi
kebutuhan pokok. Perilaku ini hanya berdasarkan pada keinginan untuk
mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara
berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
3) Inefisiensi Biaya. Pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia
remaja yang biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan
teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya
sehingga menimbulkan inefisiensi biaya.
1. Pengenalan kebutuhan
Pengambilan keputusan membeli barang dengan mempertimbangkan banyak hal
seperti faktor harga, faktor kualitas, faktor manfaat, dan faktor merk.
2.Emosional
Motif pembelian barang berkaitan dengan emosi seseorang. Biasanya
konsumen membeli barang hanya karena pertimbangan kesenangan indera atau
bisa juga karena ikut-ikutan.
Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan bahwa aspek-aspek perilaku
konsumtif yang dikemukakan Tambunan (2001) lebih bersifat penjelasan
terhadap keinginan seseorang dalam melakukan pembelian terhadap
barang-barang kebutuhan, sehingga peneliti cenderung menggunakan aspek
dari Tambunan yaitu keinginan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan
perilaku yang bertujuan untuk mencapai kepuasan semata guna penyusunan
skala.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Remaja
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif ada dua, yaitu internal dan eksternal :
a. Faktor Internal. Faktor internal ini juga terdiri dari dua aspek, yaitu faktor psikologis dan faktor pribadi.
a) Faktor psikologis, juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bergaya hidup konsumtif
b) Motivasi, dapat mendorong karena dengan motivasi tinggi untuk
membeli suatu produk, barang / jasa maka mereka cenderung akan membeli
tanpa menggunakan faktor rasionalnya.
c) Persepsi, berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi yang
baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi, dan ini menyebabkan
orang tersebut bertindak secara rasional.
d) Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar
orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan kepercayaan pada
penjual yang berlebihan dan dengan pendirian yang tidak stabil dapat
menyebabkan terjadinya perilaku konsumtif.
b. Faktor Eksternal / Lingkungan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh
lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Variabel-variabel yang
termasuk dalam faktor eksternal dan mempengaruhi perilaku konsumtif
adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial, dan keluarga.
Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Menanggulangi Masalah Perilaku Konsumtif Remaja Terhadap Barang-Barang Bermerk
Perilaku konsumtif remaja terhadap barang-barang bermerk banyak
tumbuh pada remaja yang besar dan tumbuh di kota-kota besar sehingga
mereka menjadikan mall sebagai rumah keduanya. Seperti contoh kasus di
atas. Salah satu alasanya, mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka
juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri
selalu berubah, sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang
dimilikinya.
dalam peniruan ini. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh
saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Salah satu penyebab timbulnya
keluhan orangtua, karena sebagian perilaku remaja menimbulkan masalah
ekonomi pada keluarganya.
Dengan banyaknya dampak negatif akibat perilaku konsumtif ini, maka
upaya bimbingan dan konseling diperlukan dalam menanggulangi perilaku
konsumtif. Bimbingan dan konseling dapat melakukan upaya kuratif, karena
apabila perilaku konsumtif tersebut dibiarkan maka akan terus mengakar
di dalam gaya hidup dan akan berlanjut sampai dewasa. Dampak negatif
akan lebih besar terjadi apabila pencapaian finansial didapatkan melalui
segala macam cara yang tidak sehat. Teknik yang digunakan adalah
konseling individual melalui interaksi yang berkelanjutan antara
konselor dan konseli sehingga mengkontrol dirinya dan perilaku konsumtif
remaja tersebut dapat disembuhkan.