Di usia ini, anak memang masih amat lengket dengan orang tuanya. Namun
dengan perlakuan yang tepat, melepas anak agar lebih mandiri, tidak
mustahil, kok.
Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin
ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua
harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara,
setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab
kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika
orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi,
membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila
akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan
kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan,
terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan
yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang
baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.
Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si
kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan
kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga
terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang
berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika
tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat,
masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak
hingga ia berusia dewasa.
Berikut 8 langkah yang diberikan Niken, agar anak bisa melonggarkan keterikatannya pada ayah-ibu.
1. TUMBUHKAN RASA AMAN DAN NYAMAN
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa
tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah.
Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan
ibu.
Agar anak merasa aman, orang tua perlu memberi penjelasan sederhana
yang mudah dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar
nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak perlu takut."
Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman. "Kenapa takut? Kan, Mama ada di
sini, di samping Adik," misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya
agar tumbuh perasaan nyaman.
Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai
aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti
memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.
2. BINALAH RASA PERCAYA DIRI.
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri.
Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari
orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan
dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.
Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju
yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya
sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang
kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia
jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.
Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat
memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau
tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan
memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.
3. HARGAI ANAK
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula
menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan
kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa
percaya diri anak.
Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi
bangunan percaya dirinya. "Setiap individu, termasuk anak pasti ingin
mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila
masih terdapat kesalahan di sana-sini."
Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang
positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung
perilaku-perilaku positif.
4. KELELUASAAN BERMAIN
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah
mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. "Lihat, tuh.
Kayaknya asyik banget, ya, main bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main
sana." Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan
teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa
percaya dirinya.
Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya
dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang
selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar
anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari
hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.
Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia
juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan
mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak
heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama
dengan orang tua saja.
5. PERKENALKAN LINGKUNGAN DI LUAR RUMAH
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan
banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang
memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.
Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah
diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya
diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat
berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal
lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. HINDARI INTERVENSI
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung
menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh
semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan
semangat juang.
Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang
ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan
menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak
perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun
tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.
Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang.
Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap
seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau
orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah
dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.
Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang
merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang
panjang disamping kesabaran.
7. ARAHKAN, BUKAN MALAH MEMOJOKKAN
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah
orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan
merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah
disampaikan secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya
jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini (sambil mencontohkan)
lalu masukkan ke mulut."
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam
memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin
kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan,
apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan
membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu
sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.
Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya
tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan.
Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara
dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.
8. JANGAN KELEWAT MENUNTUT
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa
melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak
mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam
ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan
baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal,
agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang
bisa memunculkan semua potensi anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar