Psikologi Lintas Budaya : Provinsi Bali
BALI
1. Latar Belakang Provinsi Bali
a. Bali
Bali
adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama
pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain
terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari
pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida,
Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.
Bali
terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya
ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas
penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal
sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya,
khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal
dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
b. Sejarah Bali
Penghuni
pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang
bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut
ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman
prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan
Sansekerta dari India pada 100 SM.
Kebudayaan
Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya
semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali)
mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong
yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan
kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak
untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan
budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit
(1293–1500 M) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah
mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu
hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam
berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain
menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, ahli-ahli
seni (artist) dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang
Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari
Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah
terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC
pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus
mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di
Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari
wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi
permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa
Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan
serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul
dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun
persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga
menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan
seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan
sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda
telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur
Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di
pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya
tidak berubah.
Jepang
menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira
militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang
kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus
1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk
menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum
perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu
menggunakan senjata Jepang.
Pada
20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi
di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah
Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali
untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang
bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas
semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang
terakhir.
Pada
tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah
bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu
sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang
diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga
dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui
kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi
Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum
menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan
Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan
perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi
ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun
1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah
nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah
penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di
Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang.
Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut
sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.Serangan
teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali
2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang
tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi
tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian
tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar
korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata
Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.
c. Demografi
Penduduk
Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut
agama Hindu. Agama lainnya adalah Buddha, Islam, Protestan dan Katolik.
Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian
dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang
digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali dan Inggris khususnya
bagi yang bekerja di sektor pariwisata.
Bahasa
Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya
di Bali dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar
masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun
terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali
menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam
berkomunikasi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali
ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma dan
keanggotan klan (istilah Bali: soroh, gotra); meskipun pelaksanaan
tradisi tersebut cenderung berkurang.
Bahasa
Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak
masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri
pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi
wisatawan di Bali, sering kali juga memahami beberapa bahasa asing
dengan kompetensi yang cukup memadai.
d. Sistem Transportasi
Bali
tidak memiliki jaringan rel kereta api namun jaringan jalan yang sangat
baik tersedia khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Sebagian
besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih menggunakannya
karena moda transportasi umum tidak tersedia dengan baik, kecuali taksi.
Jenis kendaraan umum di Bali antara lain:
1) Dokar, kendaraan dengan menggunakan kuda sebagai penarik
2) Ojek, taksi sepeda motor
3) Bemo, melayani dalam dan antarkota
4) Taksi
5) Komotra, bus yang melayani perjalanan ke kawasan pantai Kuta dan sekitarnya
6) Bus, melayani hubungan antarkota, pedesaan, dan antarprovinsi.
Bali
terhubung dengan Pulau Jawa dengan layanan kapal feri yang
menghubungkan Pelabuhan Gilimanuk dengan Pelabuhan Ketapang di Kabupaten
Banyuwangi yang lama tempuhnya sekitar 30 hingga 45 menit.
Penyeberangan ke Pulau Lombok melalui Pelabuhan Padangbai menuju
Pelabuhan Lembar yang memakan waktu sekitar empat jam.
Transportasi
udara dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai dengan destinasi
ke sejumlah kota besar di Indonesia, Australia, Singapura, Malaysia,
Thailand serta Jepang. Landas pacu dan pesawat terbang yang datang dan
pergi bisa terlihat dengan jelas dari pantai.
e. Musik
Musik
tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak
daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan
berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan
dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak,
yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula
beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan
jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan
Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara
ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat
bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar
yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan
Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun
1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik
perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena
hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau
permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling memengaruhi
daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat
Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok. Beberapa alat
musik Bali, diantaranya:
1) Gamelan
2) Jegog
3) Genggong
4) Silat Bali
f. Seni Tari
Seni
tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu
wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari
pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan
atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar
seni tari Bali, I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah
menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke
dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede,
bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong,
sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon
dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah
satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak.
Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman
Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan
bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat
berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
1) Tarian wali
a) Sang Hyang Dedari
b) Sang Hyang Jaran
c) Tari Rejang
d) Tari Baris
e) Tari Janger
2) Tarian bebali
a) Tari Topeng
b) Gambuh
3) Tarian balih-balihan
a) Tari Legong
b) Arja
c) Joged Bumbung
d) Drama Gong
e) Barong
f) Tari Pendet
g) Tari Kecak
h) Calon Arang
g. Pakaian Daerah
Pakaian
daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas
kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas
simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan
umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui
berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.
1) Pria
Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:
a) Udeng (ikat kepala)
b) Kain kampuh
c) Umpal (selendang pengikat)
d) Kain wastra (kemben)
e) Sabuk
f) Keris
g) Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.
2) Wanita
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
a) Gelung (sanggul)
b) Sesenteng (kemben songket)
c) Kain wastra
d) Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
e) Selendang songket bahu ke bawah
f) Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
g) Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
2. Perkembangan Bahasa
Bahasa
Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih
spesifik dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan
di pulau Bali, pulau Lombok bagian barat, dan sedikit di ujung timur
pulau Jawa. Di Bali sendiri Bahasa Bali memiliki tingkatan
penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya dan Bali
Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya dalam
pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang
berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di
tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya,
sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah
misalnya kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya. Di
Lombok bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram,
sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa
desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, sebuah dialek
Jawa khas Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan
sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali
tusing. Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 4 juta jiwa.
Berbeda
dengan banyak suku bangsa di dunia, namun masih mirip dengan suku
bangsa penutur bahasa Austronesia lainnya, orang Bali dalam menentukan
arah berorientasi bukan pada arah mata angin yang pasti namun pada letak
kawasan geografis, pada kasus Bali ini pada letak gunung dan laut. Oleh
karena itu arah mata angin bisa berubah-ubah sesuai tempatnya.
Kaja
berarti arah menuju gunung. Oleh karena itu, terjemahan istilah 'kaja'
dalam Bahasa Melayu adalah 'Utara' untuk masyarakat Bali Selatan,
sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng,
adalah 'Selatan'. Kelod berarti arah menuju laut. Berbalik dengan
istilah 'kaja' diatas, jadi stilah 'kelod' dalam Bahasa Melayu adalah
'Selatan' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk
masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Utara'. Kauh berarti
Barat, dan kangin berarti Timur. Hal ini sama untuk masyarakat Bali
Selatan dan Bali Utara. Perbedaan tata-cara menyebut utara dan selatan
ini sering menyebabkan kesalahpahaman jika orang Bali Selatan bertanya
dalam Bahasa Bali kepada orang Bali Utara, karena perbedaan acuan. Acuan
'gunung' yang sering dipakai adalah titik pusat pulau Bali yaitu bagian
pegunungan Batur dan Gunung Agung.
Bahasa
Bali banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuna dan
lewat bahasa Jawa ini, juga bahasa Sansekerta. Kemiripan dengan bahasa
Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam
bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika
bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa
Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa,
misalnya “sudah” bahasa Melayu, “sampun” bahasa Jawa, dan “sampun”
bahasa Jawa.
Bahasa
bali baru merupakan bahasa bali yang masih hidup dikalangan penuturnya.
Berdasarkan penuturnya Bahasa Bali Baru berkedudukan sebagai bahasa
ibu. Bahasa itu masih digunakan, baik dalam situasi resmi maupun tidak
resmi, lisan dan tulisan. Penutur bahasa bali baru adalah masyarakat
Bali yang diam di Bali atau daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Perkembangan Bahasa Bali Baru kian meningkat ketika Indonesia dijajah
oleh Hindia Belanda pada
umumnya dan Bali pada khususnya. Ketika itu di Bali, Jagaraga jatuh
ketangan Belanda pada Tahun 1849M. Sejak itu bahasa Bali Baru banyak
menyerap unsur bahasa dari Belanda dan juga bahasa Melayu, sedangkan
bahasa Belanda menjadi bahasa resmi kedua di Indonesia disamping bahasa
Bali Baru adalah pelanjut bahasa Bali Tengahan. Lebih jauh, Bahasa bali
tengahan yang sumber terakhirnya di kerajaan Klungkung makin melemah
pengaruhnya karana Klungkung jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1901 M
atau lazim disebut puputan Klungkung. Bahasa Bali Baru makin berkembang
dengan terbitnya buku-buku berbahasa Bali Baru yang menggunakan huruf
latin dan huruf Bali yang berisikan tentang pelajaran Bahasa, sastra,
babad, etika, nyanyian, agama,dan lain-lain. Dimana media
pengembangannya adalah lontar, lalu berkembang lagi menggunakan buku,
majalah dan surat kabar.
3. Sistem Religi
Agama
masyarakat Bali adalah Hindu Bali. Tak heran di Bali banyak sekali kuil
atau pura tempat pemujaan. Sebagian kecil beragama Islam, Kristen dan
Budha. Walau agama Hindu besar pengaruhnya terhadap kebudayaan
penduduknya, orang Bali berhasil mempertahankan budaya aslinya, sehingga
tidak sama dengan budaya India. Orang Hindu Bali percaya akan adanya
satu Tuhan, dalam konsep Trimurti Yang Esa. Trimurti ini mempunyai tiga
wujud atau manifesti. Brahmana, wujud yang menciptakan; Wisnu, wujud
yang melindungi serta memelihara; Siwa, wujud yang melebur segala yang
ada. Panca Yadnya (upacara) adalah lima jenis karya suci yang
diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan
hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:
a. Manusa Yadnya (upacara-upacara siklus hidup dari masa kanak-kanak sampai dewasa)
Gambar : Pernikahan
Suatu
korban suci/pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia. Di dalam
pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di
antaranya ialah:
1) Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
2) Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
3) Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
4) Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/Citra Wiwaha/Widhi-Widhana.
Di
dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan-kegiatan spiritual
tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi
kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan,
kesehatan, dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan
bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan
menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti
krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita
(Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa
Yadnya.
b. Pitra Yadnya (upacara kepada roh leluhur, meliputi upacara kematian sampai penyucian roh leluhur)
Gambar : Upacara Ngaben
Suatu
korban suci/persembahan suci yang ditujukan kepada roh-roh suci dan
Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan
menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan
sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.
Adapun
tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan
bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah
leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan
mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak,
menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan
Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai
keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
1) Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
2) Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
3) Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
c. Dewa Yadnya (upacara pada kuil umum dan keluarga)
Gambar : Sembahyang
Suatu
korban suci/persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh
manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa
Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina
(pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan
persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta
Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci). Korban suci
tersebut dilaksanakan pada hari-hari suci, hari peringatan (Rerahinan),
hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari-hari raya lainnya seperti Hari
Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan
lain- lain.
d. Resi Yadnya (upacara pentasbihan pendeta/mediksa)
Gambar:Pendeta
Suatu
upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para
Maha Resi, orang-orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam
pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
1) Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
2) Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
3) Menghaturkan/ memberikan punia pada saat-saat tertentu kepada Sulinggih.
4) Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran para Sulinggih.
5) Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
e. Buta Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada kala dan buta yaitu roh-roh yang dapat mengganggu).
Gambar : Upacara
Suatu
korban suci/pengorbanan suci kepada Sarwa Bhuta yaitu makhluk- makhluk
rendahan, baik yang terlihat (Sekala) ataupun yang tak terlihat
(Niskala), hewan (binatang), tumbuh-tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk
lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun
pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa upacara Yadnya
(korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta,
yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan
untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan
diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Di
dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur-unsur Panca Yadnya
telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya
mana yang diutamakan.
4. Sistem Perkawinan
Perkawinan
adat bali sangat diwarnai dengan pengagungan kepada Tuhan sang
pencipta, semua tahapan perkawinan dilakukan di rumah mempelai pria,
karena masyarakat Bali memberlakukan sistem patriarki, sehingga dalam
pelaksanan upacara perkawinan semua biaya yang dikeluarkan untuk hajatan
tersebut menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki-laki. Hal ini
berbeda dengan adat perkawinan jawa yang semua proses perkawinannya
dilakukan di rumah mempelai wanita. Pengantin wanita akan diantarkan
kembali pulang ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tua agar bisa
tinggal bersama suami beberapa hari setelah upacara perkawinan.
Rangkaian tahapan perkawinan adat Bali adalah sebagai berikut:
a. Upacara Ngekeb
Acara
ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan
remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu
kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada
pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan
yang baik.
Setelah
itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi
luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras
yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi
air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang
pun tersedia untuk keramas.
Sesudah
acara mandi dan keramas selesai, perkawinan adat bali akan dilanjutkan
dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu
telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon
pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon
suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan,
pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya
akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai
perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya
sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama
pasangan hidupnya.
b. Mungkah Lawang (Buka Pintu)
Seorang
utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin
wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang
menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang
mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita
dan memohon agar segera dibukakan pintu.
c. Upacara Mesegehagung
Sesampainya
kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari
tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain
bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita.
kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari
pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada
pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera
dibuka untuk ditukarkan dengan uang keping satakan yang ditusuk dengan
tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus keping.
d. Madengen–dengen
Upacara
ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin
dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang
pemangku adat atau Balian
e. Mewidhi Widana
Dengan
memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi
Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini
merupakan penyempurnaan perkawinan adat bali untuk meningkatkan
pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara
sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan
untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh
seorang pemangku merajan
f. Mejauman Ngabe Tipat Bantal
Beberapa
hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada
hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan
kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk
melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit
kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama
kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah
menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini
keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi
berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot,
kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang,
bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.
5. Kaitan Budaya Bali dengan Psikologi Lintas Budaya
Kaitan Budaya Bali dengan Psikologi Lintas Budaya, dtinjau dari:
a. Perkembangan Moral
Pengembangan
pariwisata di Bali memiliki dua dampak yaitu dampak positif dan dan
dampak negatif. Dampak positif yang muncul antara lain peningkatan
pendapatan daerah, peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal, dan
penciptaan lapangan pekerjaan. Sedangkan dampak negatif yang dapat
dilihat antara lain kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dijadikan
sebagai objek dan daya tarik wisata, peningkatan jumlah tindak kejahatan
seperti pencurian dan perampokan, serta praktek prostitusi.
Ditinjau
dari perspektif agama, prostitusi dilarang dan ditentang keras
keberadaannya oleh semua agama di Indonesia. Namun, keberadaanya sudah
tidak bisa dipungkiri lagi. Ini tidak terlepas dari banyaknya permintaan
(demand) terhadap prostitusi dan harus disikapi dengan peningkatan persediaan (supply) prostitusi. Praktek prostitusi dapat dilihat di berbagai tempat pariwisata di Bali seperti; Kuta dan Sanur. Keputusan untuk berprofesi sebagai pekerja seks komersial yang lazim disebut sebagai PSK (commercial sex worker) dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti; impitan ekonomi, broken-home, ketidakharmonisan dalam hubungan seks dengan pasangannya. Di
antara penyebab tersebut, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling
dominan, terlebih lagi krisis ekonomi dan politik yang menimpa Indonesia
khususnya Bali dalam dasa warsa terakhir yang telah memaksa beberapa
orang untuk bergelut dalam profesi itu.
Pekerja
seks komersial adalah seseorang yang menjual dirinya dengan melakukan
hubungan seks untuk tujuan ekonomi. Secara umum ada dua pelaku pekerja
seks komersial yaitu; laki-laki yang sering disebut sebagai gigolo dan
perempuan yang sering disebut wanita tuna susila (WTS). Konsumen pekerja
seks komersial dibagi menjadi dua yaitu; konsumen lokal dan konsumen
asing. Konsumen lokal yaitu konsumen yang berasal dari kalangan pekerja
industri pariwisata, sopir, dan wisatawan lokal. Konsumen asing adalah
konsumen yang berasal dari kalangan wisatawan asing dan orang asing yang
berbisnis dan tinggal di Bali.
Berdasarkan
modus operasinya, Pekerja seks komersial dikelompokkan menjadi dua
jenis yaitu; pekerja seks jalanan dan pekerja seks terselubung. Pekerja
seks komersial jalanan biasanya beroperasi secara terbuka di jalan-jalan
yang dilewati wisatawan, di dalam bar, restoran, dan karaoke. Mereka
umumnya berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu dari berbagai
daerah di Indonesia. Biasanya, mereka memiliki dan mengadakan
perjanjian-perjanjian khusus seperti penentuan tariff, lokasi, dan
pelayanan. Walaupun hanya
memiliki kemampuan berbahasa asing yang sangat terbatas, mereka bisa
dengan leluasa beoperasi dan berkomonikasi dengan calon pelanggan dan
pelanggannya karena didukung oleh bahasa tubuh (body language).
Pekerja
seks terselubung biasanya beroperasi secara tersembunyi yang sering
kali menyamar sebagai pemandu wisata illegal dan freelance, pedagang
asong, pegawai salon kecantikan, menyewakan papan selancar, dan menjual
makanan dan minuman di sekitar Pantai Kuta. Profesi aslinya sangat
berpeluang untuk mencari kerja sampingan. Mereka biasanya memanfaatkan
waktu kerjanya untuk menggoda dan merayu calon pelanggannya dengan
berbagai cara untuk mengadakan pendekatan. Upaya pendekatan yang
dilakukan untuk mendapatkan pelanggan antara lain; dengan menawarkan
diri sebagai teman, teman kencan, dan pemandu wisata. Kedekatan hubungan
ini biasanya terus berlanjut walaupun pelanggannya sudah tidak di Bali
lagi. Setidaknya mereka masih terus berkomunikasi dengan berbagai sarana
seperti; telepon, surat, dan email.
Kedekatan
hubungan antara Pekerja seks komersial dengan pelanggannya sering kali
berlanjut sehingga tidak jarang digunakan sebagai sumber dana untuk
biaya hidup di tengah hangar-bingarnya pariwisata seperti; tempat
tinggal, makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari. Sebagian
hubungannya terus berlanjut hingga ke pelaminan atau perkawinan.
b. Kepribadian
Bali
adalah benar-benar pusat kebudayaan dunia yang memperkaya dan
memberikan identitas untuk lokalisme, nasionalisme dan universalisme dan
yang paling penting meningkatkan pencerahan dan kesejahteraan manusia.
Warisan
budaya yang kaya dan energi kreatif yang dinamis Ika Bhinneka Bali
mempromosikan Tunggal (Bhinneka Tunggal Ika) dan mematuhi kearifan
budaya seperti tatwa (filsafat), Susila (etika) dan upacara (ritual),
nilai proyek yang inovasi, toleransi, harmoni, etika, spiritualitas dan
multikulturalisme.
Pada
skala global, seni dan budaya Bali dapat menjadi muara dan model untuk
hubungan lintas budaya yang mengilhami polarisasi kekuatan global yang
hegemonik dan mengurangi benturan peradaban. Untuk mengoptimalkan
perkembangan seni Bali di era global saat ini, ia mengatakan pemerintah
Bali harus terus melestarikan dan mengembangkan seni religius sakral
dengan melibatkan instansi terkait, termasuk desa Pekraman (otonom
berbasis teritorial desa-desa tradisional).
Demikian
pula, dalam menghadapi dan memahami lebih dari satu kebudayaan milik
orang lain, seniman memiliki kebebasan untuk memilih dan selanjutnya
mengartikulasikan sesuai dengan pola dan daya ungkap yang dimiliki.
Janger Banyuwangi sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan yang berada
dalam kawasan silang budaya Bali, Using, dan Jawa. Dialog antarbudaya
dari ketiga etnis tersebut berlangsung secara mendalam, akrab, dan
intensif. Melalui genius-genius lokal, ketiga budaya tersebut dapat
dikreasikan menjadi sebuah performance yang khas.
c. Proses Akulturasi
Gambar : Bela Diri Khas Bali
Bali
dengan masyarakat dan budaya yang unik dipastikan bukanlah satu wilayah
migrasi yang baru tumbuh. Keseharian masyarakat Bali dengan budaya yang
senantiasa menampilkan warna budaya lokal menunjukkan bahwa perjalanan
Bali telah melewati alur sejarah yang panjang.
Terinspirasi
oleh pelukis Walter Spies yang pada tahun 1930-an dengan seniman tari
Bali Wayan Limbak menggagas tarian Kecak, I Putu Winset Widjaya, seorang
seniman beladiri menciptakan seni beladiri baru yang mengambil gerakan
pencak kuno Bali sebagai dasarnya. Pencak tradisional Bali seperti itu
Sitembak, 7 harian, dan Depok yang biasa juga disebut sebagai Tengklung
dipadukanlah dengan drama, tari Bali dan jurus-jurus beladiri seperti
Tae Kwon Do, Capioera dan lain-lain. Jadilah sebuah aliran bela diri
baru yang diberi nama dalam bahasa Bali sebagai Mepantigan, yang artinya
saling membanting.
Yang
membedakan Mepantigan ini dengan pencak yang ada di Indonesia adalah
lebih banyak mengutamakan kuncian dan bantingan. Untuk lebih menekankan
ciri khas Bali Putu Winset mengembalikan kostum pencaknya ke pakaian
asli pencak Bali kuno yaitu hanya mengenakan kain yang diikat sedemikian
rupa menjadi seperti celana pendek (kamen kancut/mekancut guladginting)
dipadukan dengan ikat kepala khas Bali yang biasa disebut Udeng.
Pakaian ini di dapatnya dari literatur yang ada tentang pencak Bali
kuno. Para pesilat Mepantigan menggunakan kain dan Udeng jika
bertanding atau pertunjukan. Khusus untuk berlatih mereka menggunakan
kostum merah putih dan kain batik sebagai penanda bahwa Mepantigan
adalah berasal dari Indonesia.
Putu
Winset sendiri sebelumnya menguasai Tae Kwon Do, lalu setelah bergaul
dan berlatih tanding dengan pendekar-pendekar tua Bali dia
terkagum-kagum dengan daya serangnya yang mematikan. Seperti “total football”
dimana setiap pertahanan menjadi sebuah serangan yang membahayakan.
Lalu dia mempelajari pencak Bali seperti Sitempak, Depok dan 7 Harian.
Dari sanalah ide untuk memadukan pencak bali dengan beladiri lain,
itulah Mepantigan.
Mepantigan
sedikit demi sedikit mulai berkembang di Bali dan diajarkan di beberapa
tempat secara masal dan juga perorangan. Mepantigan banyak diminati
oleh murid-murid sekolah international yang nota bene warga Negara
asing. Bahkan Mepantigan juga mulai diperkenalkan sebagai seni
pertunjukan beladiri di hotel Arma di Ubud. Di hotel itu mereka rutin
mempertunjukannya setiap Kamis malam lengkap dengan iringan tetabuhan
gamelan. Semoga saja Mepantigan menjadi seperti tari Kecak yang menjadi
salah satu ikon Bali dan semakin memperkaya khazanah seni dan budaya
Bali.
d. Proses Asimilasi
Berbicara
budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah
individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu
dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari
sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Dari kehidupan bersama tersebut
diadakanlah aturan-aturan, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang
sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya
berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu
yang masuk dalam kehidupan bersama. Semua tata nilai, perilaku, dan
kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut
budaya.
Pada
ranah individual adalah budaya diawali ketika individu-individu bertemu
untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut
memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh. Ketika
budaya sudah terbentuk, setiap individu merupakan agen-agen budaya yang
memberi keunikan, membawa perubahan, sekaligus penyebar.
Individu-individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi
kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari
individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Dari sini terlihat
bahwa budaya sangat mempengaruhi perilaku individu.
Budaya
telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir
dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan
diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi budaya mencoba
mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku
manusia. Di dalam kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian
individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di
dalamnya tercakup budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan
pendekatan yang digunakan oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi
budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan.
Sebagai
makhluk yang dapat berpikir, manusia memiliki pola-pola tertentu dalam
bertingkah laku. Tingkah laku ini menjadi sebuah jembatan bagi manusia
untuk memasuki kondisi yang lebih maju. Pada hakikatnya, budaya tidak
hanya membatasi masyarakat, tetapi juga eksistensi biologisnya, tidak
hanya bagian dari kemanusiaan, tetapi struktur instingtifnya sendiri.
Namun demikian, batasan tersebut merupakan prasyarat dari sebuah
kemajuan.
Penduduk
Bali Asli dulunya merupakan penganut kepercayaan yang percaya kepada
alam, namun setelah melalui proses adaptasi dari Penduduk keturunan
Majapahit, umumnya penduduk bali beragama Hindu, walaupun sekarang ini
sudah banyak juga penduduk Bali yang beragama lain. Kepercayaan Hindu di
Bali sedikit berbeda dengan kepercayaan Hindu yang berasala dari
kerajaan Majapahit yang mulanya berawal dari India, karena kebudayaan
Bali telah melalui proses adaptasi dari dua macam penduduk tersebut.dari
proses asimilasi tersebut, kebudayaan bali dan india saling
menyesuaikan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat (2002). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia
Matsumoto, D. (2002). Culture, psychology, and education. In W. J. Lonner, D. L.
Dinnel,
S. A.Hayes, & D. N. Sattler (Eds.), Online Readings in Psychology
and Culture (Unit 2, Chapter 5),
(http://www.ac.wwu.edu/~culture/index-cc.htm), Center for Cross-Cultural
Research, Western Washington University, Bellingham, Washington USA
Ratner,
C. (2000). Outline of Coherent, Comprehensive Concept of Culture : The
Problem of Fragmentary Notions of Culture. Cross-Cultural Psychology
Bulletin, 35 : 5-11
Segall,
M.H., Dasen, P.R., Berry, J.W., & Poortinga, Y.H. (1999). Human
Behavior in Global Perspective : An Introduction to Cross-Cultural
Psychology. New York : Pergamon Press.
Smith, P.B., & Bond, M.H. (1994). Social Psychology Across Cultures : Analysis and Perspectives. Boston : Allyn and Bacon.
Triandis, H.C. (1994). Culture and Social Behavior. New York : McGraw-Hill.
Triandis,
H. C. (2002). Odysseus wandered for 10, I wondered for 50 years. In W.
J. Lonner, D. L. Dinnel, S. A. Hayes, & D. N. Sattler (Eds.), Online
Readings in Psychology and Culture (Unit 2, Chapter 1),
(http://www.ac.wwu.edu/~culture/index-cc.htm), Center for Cross-Cultural
Research, Western Washington University, Bellingham, Washington USA.
Van Peursen, C.A. (1988). Strategi Kebudayaan (terj. Dick Hartoko). Yogyakarta : Kanisius.
http://www.psychologymania.co.cc/2010/04/budaya-dan-hubungannya-dengan-psikologi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar